Cara Memilih Kelas Merek yang Tepat untuk Produk dan Jasa

Dalam pendaftaran merek, memilih nama brand yang bagus saja belum cukup. Banyak pelaku usaha terlalu fokus pada pertanyaan: “Apakah nama merek ini sudah ada yang pakai?” Padahal, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: “Merek ini akan dilindungi untuk barang atau jasa apa?”

Pertanyaan kedua ini sering luput. Akibatnya, pelaku usaha bisa saja sudah mendaftarkan merek, tetapi perlindungannya tidak tepat sasaran. Nama mereknya benar, tetapi kelas barang atau jasanya kurang sesuai dengan kegiatan usaha yang sebenarnya dijalankan. Di sinilah pentingnya memahami kelas merek. Kelas merek menentukan ruang perlindungan hukum atas brand yang didaftarkan.

Merek Tidak Berdiri Sendiri

Merek selalu melekat pada barang atau jasa tertentu. Sebuah nama brand tidak dilindungi secara abstrak untuk semua jenis usaha. Perlindungan merek diberikan sesuai dengan kelas barang dan/atau jasa yang dimohonkan dalam pendaftaran.

Misalnya, satu nama brand digunakan untuk produk kopi kemasan. Perlindungan mereknya harus diarahkan pada barang yang sesuai dengan produk tersebut. Jika pelaku usaha juga membuka kedai kopi, menjual makanan, atau menyediakan jasa restoran, maka ruang perlindungannya bisa berbeda. Inilah yang sering tidak dipahami.

Pelaku usaha merasa cukup mendaftarkan satu nama brand, lalu menganggap brand tersebut otomatis aman untuk seluruh rencana bisnisnya. Padahal, hukum merek melihat bukan hanya nama mereknya, tetapi juga barang atau jasa yang dicantumkan dalam permohonan. Karena itu, memilih kelas merek harus dimulai dari pemahaman terhadap bisnisnya sendiri.

Mulai dari Produk atau Jasa yang Benar-Benar Dijalankan

Langkah pertama dalam memilih kelas merek adalah melihat apa yang benar-benar dijual kepada konsumen.

Apakah bisnis menjual barang?
Apakah bisnis menyediakan jasa?
Atau keduanya?

Pertanyaan ini sederhana, tetapi penting.

Jika pelaku usaha menjual produk fisik, maka yang perlu dilihat adalah jenis barangnya. Misalnya makanan kemasan, minuman, pakaian, kosmetik, produk herbal, alat rumah tangga, atau barang lainnya. Jika pelaku usaha menyediakan layanan, maka yang perlu dilihat adalah jenis jasanya. Misalnya jasa restoran, jasa konsultasi, jasa pendidikan, jasa teknologi informasi, jasa periklanan, jasa desain, atau jasa lainnya.

Dalam beberapa bisnis, barang dan jasa berjalan bersamaan. Contohnya, pelaku usaha memiliki brand kopi. Ia menjual kopi bubuk dalam kemasan, tetapi juga mengoperasikan kedai kopi. Dalam kondisi seperti ini, pelaku usaha perlu memahami bahwa produk kopi kemasan dan jasa kedai/restoran dapat berada dalam ruang klasifikasi yang berbeda. Jadi, jangan hanya melihat nama brand. Lihat juga model bisnisnya.

Bedakan Produk Utama, Produk Turunan, dan Rencana Ekspansi

Kesalahan lain yang sering terjadi adalah hanya mendaftarkan merek berdasarkan produk yang dijual hari ini, tanpa memikirkan arah bisnis ke depan. Memang, pendaftaran merek harus realistis. Pelaku usaha tidak perlu mendaftarkan terlalu banyak kelas yang tidak relevan. Namun, terlalu sempit juga bisa menjadi masalah.

Misalnya, sebuah brand awalnya hanya menjual sambal kemasan. Namun, sejak awal pemiliknya sudah berencana mengembangkan produk menjadi bumbu instan, makanan olahan, katering, dan restoran. Jika sejak awal strategi kelas tidak dipikirkan dengan baik, perlindungan mereknya bisa tertinggal dari perkembangan bisnis.

Dalam memilih kelas merek, pelaku usaha sebaiknya membedakan tiga hal.

Pertama, produk atau jasa utama yang saat ini dijalankan.

Kedua, produk atau jasa turunan yang secara wajar masih terkait dengan bisnis utama.

Ketiga, rencana ekspansi yang cukup serius dan realistis untuk dikembangkan.

Dengan cara berpikir ini, pendaftaran merek tidak hanya menjadi urusan hari ini, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pertumbuhan bisnis.

Jangan Mengira Satu Kelas Melindungi Semua Hal

Satu kelas merek tidak selalu mencakup seluruh kegiatan usaha. Dalam praktik, satu brand bisa membutuhkan lebih dari satu kelas apabila digunakan untuk berbagai jenis barang atau jasa. Sebaliknya, tidak semua bisnis membutuhkan banyak kelas jika ruang usahanya masih jelas dan terbatas. Yang perlu dihindari adalah dua ekstrem.

Ekstrem pertama, terlalu sempit. Pelaku usaha hanya memilih satu jenis barang, padahal brand digunakan untuk beberapa produk yang berbeda secara relevan.

Ekstrem kedua, terlalu luas. Pelaku usaha memilih banyak kelas tanpa strategi, hanya karena ingin merasa aman. Padahal, semakin banyak kelas, semakin besar pula biaya dan kebutuhan pengelolaan mereknya.

Pemilihan kelas sebaiknya tidak didasarkan pada rasa takut, tetapi pada kebutuhan bisnis yang nyata dan arah pengembangan yang masuk akal.

Perhatikan Uraian Jenis Barang dan Jasa

Selain kelas, uraian jenis barang dan jasa juga penting. Dalam permohonan merek, pelaku usaha tidak cukup hanya memilih kelas. Ia juga perlu mencantumkan uraian jenis barang dan/atau jasa yang dimohonkan perlindungannya. Uraian ini menentukan sejauh mana merek tersebut dikaitkan dengan produk atau jasa tertentu.

Misalnya, dalam bisnis makanan dan minuman, uraian barang atau jasa harus disusun dengan cermat agar sesuai dengan produk yang benar-benar dijalankan. Jangan sampai brand digunakan untuk satu jenis produk, tetapi uraian dalam permohonannya tidak mencerminkan produk tersebut. Kesalahan pada uraian barang atau jasa bisa membuat perlindungan merek tidak sesuai harapan. Itulah sebabnya pemilihan kelas dan uraian jenis barang/jasa harus dilihat sebagai satu kesatuan.

Kelas Merek dan Risiko Persamaan dengan Merek Lain

Pemilihan kelas juga berpengaruh dalam penilaian apakah suatu merek berisiko benturan dengan merek lain. Dalam hukum merek, permohonan dapat ditolak apabila memiliki persamaan pada pokoknya atau keseluruhannya dengan merek terdaftar milik pihak lain atau merek yang dimohonkan lebih dahulu untuk barang dan/atau jasa sejenis. Artinya, ketika melakukan pengecekan merek, pelaku usaha tidak cukup hanya mencari nama yang sama persis. Ia juga perlu memperhatikan merek yang mirip dalam barang atau jasa yang relevan.

Permenkum 5 Tahun 2026 bahkan menegaskan bahwa penentuan barang dan/atau jasa sejenis dapat dilihat dari beberapa aspek, seperti sifat barang/jasa, tujuan dan metode penggunaan, komplementaritas, kompetisi, saluran distribusi, konsumen yang relevan, dan asal produksi. Ini penting karena “sejenis” tidak selalu hanya berarti berada dalam kelas yang sama.

Dua produk bisa saja memiliki keterkaitan pasar, saluran distribusi yang mirip, konsumen yang sama, atau fungsi yang saling berhubungan. Dalam kondisi tertentu, kemiripan merek pada barang atau jasa seperti ini dapat menimbulkan risiko penolakan atau sengketa.

Contoh Cara Berpikir

Bayangkan sebuah brand bernama “Loka Rasa”. Jika brand ini digunakan untuk menjual makanan ringan kemasan, maka fokus perlindungannya tentu perlu melihat jenis barang makanan tersebut. Tetapi jika “Loka Rasa” juga digunakan sebagai nama restoran, maka pelaku usaha perlu mempertimbangkan jasa penyediaan makanan/minuman atau jasa restoran. Jika kemudian brand tersebut dikembangkan menjadi katering, produk bumbu, atau kelas memasak, maka strategi perlindungan mereknya bisa berubah lagi.

Contoh ini menunjukkan bahwa kelas merek harus mengikuti cara brand digunakan dalam bisnis. Nama mereknya sama, tetapi perlindungan hukumnya bisa berbeda tergantung barang atau jasa yang dicantumkan.

Jangan Hanya Mengikuti KBLI

Pelaku usaha yang sudah terbiasa dengan OSS sering berpikir menggunakan logika KBLI. Ini wajar, karena dalam perizinan berusaha, KBLI menjadi dasar untuk menentukan bidang usaha. Namun, kelas merek tidak sama dengan KBLI.

KBLI digunakan untuk mengklasifikasikan kegiatan usaha dalam sistem perizinan. Sedangkan kelas merek digunakan untuk mengklasifikasikan barang dan jasa dalam rezim pendaftaran merek. Keduanya bisa saling berkaitan, tetapi tidak identik.

Misalnya, suatu pelaku usaha memiliki KBLI tertentu untuk perdagangan makanan. Namun, ketika mendaftarkan merek, yang harus dilihat adalah barang atau jasa apa yang ingin dilindungi dalam sistem klasifikasi merek. Karena itu, pelaku usaha tidak boleh langsung menyamakan KBLI dengan kelas merek. Perlu ada penerjemahan dari kegiatan usaha ke jenis barang atau jasa yang relevan dalam pendaftaran merek.

Kapan Perlu Lebih dari Satu Kelas?

Lebih dari satu kelas dapat dipertimbangkan apabila brand digunakan untuk beberapa kategori barang atau jasa yang berbeda. Misalnya, sebuah brand tidak hanya digunakan untuk produk fisik, tetapi juga untuk layanan. Atau sebuah brand digunakan untuk beberapa kelompok produk yang secara klasifikasi berbeda.

Namun, keputusan untuk menambah kelas sebaiknya tetap dihitung secara bisnis.

Apakah produk atau jasa tersebut sudah dijalankan?
Apakah akan dijalankan dalam waktu dekat?
Apakah brand tersebut memang akan dipakai untuk kategori tersebut?
Apakah ada risiko jika kelas tersebut tidak dimasukkan?
Apakah biaya tambahan sebanding dengan kebutuhan perlindungan?

Pertanyaan seperti ini membantu pelaku usaha menghindari pendaftaran yang terlalu sempit maupun terlalu luas.

Kelas Merek sebagai Strategi Bisnis

Memilih kelas merek bukan hanya urusan administratif. Ini adalah bagian dari strategi bisnis. Sebuah brand yang direncanakan hanya untuk satu produk tentu membutuhkan strategi berbeda dengan brand yang akan menjadi payung untuk banyak lini produk. Brand untuk usaha kecil yang masih menguji pasar juga berbeda kebutuhannya dengan brand yang sudah siap masuk marketplace nasional, kemitraan, franchise, atau ekspansi ke beberapa kategori produk.

Semakin besar rencana pengembangan bisnis, semakin penting pula pemilihan kelas merek dilakukan dengan hati-hati. Jika kelas terlalu sempit, brand bisa kurang terlindungi ketika berkembang. Jika kelas terlalu luas tanpa kebutuhan yang jelas, biaya dan pengelolaan menjadi tidak efisien.

Kesalahan Umum dalam Memilih Kelas Merek

Ada beberapa kesalahan yang sering terjadi.

Pertama, memilih kelas hanya berdasarkan perkiraan tanpa memahami isi kelas barang atau jasa.

Kedua, hanya mendaftarkan nama brand untuk satu produk, padahal brand digunakan untuk beberapa produk yang berbeda.

Ketiga, menyamakan KBLI dengan kelas merek.

Keempat, tidak memasukkan jasa yang sebenarnya menjadi bagian penting dari bisnis.

Kelima, memilih terlalu banyak kelas tanpa strategi yang jelas.

Keenam, tidak memperhatikan rencana ekspansi bisnis.

Kesalahan-kesalahan ini dapat membuat perlindungan merek menjadi kurang efektif.

Dasar Hukum

Dasar hukum dalam pembahasan ini antara lain:

  1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis;
  2. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja, sepanjang mengubah ketentuan dalam UU Merek dan Indikasi Geografis;
  3. Peraturan Menteri Hukum Nomor 5 Tahun 2026 tentang Pendaftaran Merek;
  4. ketentuan mengenai Nice Classification sebagai sistem klasifikasi internasional barang dan jasa untuk pendaftaran merek.

Kesimpulan

Memilih kelas merek yang tepat adalah bagian penting dalam perlindungan brand. Pelaku usaha tidak cukup hanya memilih nama merek yang menarik. Ia juga perlu memastikan bahwa merek tersebut didaftarkan pada kelas dan uraian barang/jasa yang sesuai dengan kegiatan bisnisnya.

Kelas merek menentukan ruang perlindungan. Karena itu, pemilihannya harus memperhatikan produk yang dijual, jasa yang diberikan, model bisnis, rencana ekspansi, dan risiko kemiripan dengan merek lain. Bagi pelaku usaha yang ingin membangun brand secara serius, pemilihan kelas merek sebaiknya tidak diperlakukan sebagai formalitas. Ia adalah bagian dari fondasi hukum yang akan menentukan seberapa kuat brand tersebut dapat dilindungi ketika bisnis berkembang.

Related Posts

Pengurusan NIB Bojonegoro untuk Mendukung Legalitas dan Perkembangan Usaha

Legalitas merupakan salah satu aspek yang perlu dipersiapkan ketika membangun dan mengembangkan bisnis. Bagi pelaku usaha di Bojonegoro, Nomor Induk...
  • admin_rinoadmin_rino

Perbedaan Kewajiban LKPM bagi Usaha Kecil, Menengah, dan Besar

Setelah memperoleh Nomor Induk Berusaha (NIB), pelaku usaha tidak hanya perlu memastikan bahwa legalitas usahanya telah terbit. Dalam kondisi tertentu,...
  • admin_rinoadmin_rino